Hot news

Just another WordPress.com weblog

Health Benefits of Chocolate Cocoa Pertikel Set

The researchers The Hershey Center for Health and Nutrition in Hersey and scientists from Brunswick Laboratories in Taunton Massachusetts and Cornell University in Ithaca, New York, found the antioxidants in chocolate and cocoa are closely related to the amount of cocoa nonfat ingredient in the product.

The results of the study found, the product with the highest levels of flavanol antioxidants are cocoa powder, baking chocolate without making sweet, dark chocolate and semi sweet chips, milk chocolate and chocolate syrup.

Flavanols cocoa, epicatechin and cathecin example, in cardiovascular health linked with. The researchers found large differences in the number cathecin and relate it to the manufacturing process. According to them, epicatecihin, the main flafanol monomers contained in the sample, can be converted into catechins during the process of roasting and an alkali lawyer. Monomer is a small molecule that can be chemically bonded to other monomers to form the polymer.

Study again confirms the results, the number of flavanol, whether large or small, in products such as dark chocolate, milk chocolate and cocoa powder is closely related to levels of cocoa particles in chocolate products. Study results published in the Journal of Agricultural of Food Chemistry.

Advertisements

January 10, 2010 Posted by | Food | Leave a comment

Nasi setannnnnnnnnnn

Dalam petualangan kuliner saya, cukup banyak saya jumpai penjual makanan yang sengaja buka pada malam hari. Salah satu yang pernah saya tulis di kolom Jalansutra ini adalah Rawon Setan di Embong Malang Surabaya. Dinamai sedemikian karena pada waktu bukanya mulai pukul 11 malam hingga subuh. Sama dengan saat bergentayangannya para setan. Rupanya, panggilan perut yang lapar memang tidak kenal waktu.

Orang-orang seusia saya di Surabaya tentu ingat Mbok Rah, penjual nasi campur di Jalan Labuan. Pelanggannya juga mengenal warung ini sebagai Warung Larahan. Dalam dialek Jawa Timur-an, larahan berarti sampah.

Saya hanya dapat menduga penamaan ini mungkin karena dulu tempatnya dekat tempat sampah. Atau, mungkin pula karena makanan yang disajikannya berpenampilan mirip sampah akibat campuran bermacam jenis makanan.

Menurut catatan para pelanggannya, Mbok Rah sudah berjualan sejak tahun 1951. Kini, usahanya diteruskan oleh seorang cucunya. Tempatnya juga sudah pindah. Sekarang, warung nasi yang masih memakai nama Mbok Rah itu mangkal di Jalan Bubutan, dekat Tugu Pahlawan.

Jualannya sangat unik. Nasi putih diberi lauk pecel, bihun goreng, kemudian disiram dengan kuah semur, lalu disiram lagi dengan kuah lodeh. Topping-nya rempeyek. Sungguh, rame!

Sebetulnya, bila dinilai satu per satu, pecelnya sendiri memang enak. Semurnya agak terlalu berlemak. Tetapi, sayur lodehnya menampilkan ciri makanan rumahan yang istimewa.

Kuliner “tabrakan” seperti nasi campur-nya Mbok Rah itu juga kita temui di Banyuwangi, yaitu rujak buah dengan sambal kacang yang diguyur kuah soto. Di Solo juga ada makanan yang disebut macan kerah (harimau bertarung). Macan kerah merupakan perpaduan antara tahu kupat dan soto. Memang unik!

Mak Yeye

Di sebuah gang kecil di Jagir, Wonokromo Wetan, Surabaya, ada sebuah warung kecil yang tiap malam didatangi ratusan orang. Tempat makan ini dikenal sebagai Warung Mak Yeye. Dengan serbuan ratusan orang yang ingin makan di situ, tentulah sulit untuk menyajikan secara individual.

Seperti ban berjalan dalam proses produksi otomatis, sang penjual – bahkan tanpa melihat ke pembelinya – terus-menerus “memproduksi” sepiring nasi yang diberi seiris lebar dadar telur, masakan pedas ikan pari asap, dan sesendok sambal. Dan setiap piring yang selesai “diproduksi” langsung beralih tangan ke pembeli yang langsung pula membayar. Karena semua porsinya sama, harganya pun semua sama. Delapan ribu rupiah saja. Murah-meriah!

Sesuai dengan namanya, keistimewaan masakan Mak Yeye adalah pada masakan pedas ikan pari-nya. Ini ditambah dengan sambalnya yang memang sangat unik dan sangat pedas. Top markotop!

Setelah kepedasan makan sajian Mak Yeye, di dekat situ ada penjual ketan kukus yang ditaburi bubuk kedelai. Hidangan sederhana ini tidak saja mampu meredam pedasnya sambal, tetapi juga memang pada dasarnya adalah jajanan yang cukup gurih.

Uniknya, saking terfokus pada jualan Mak Yeye, warung kecil penyedia ketan kukus itu malah tidak banyak dikenali orang. Pemiliknya juga tampaknya kurang “percaya diri” untuk mempromosikan jualannya di bawah bayang-bayang Mak Yeye yang sudah sedemikian kondang.

Nasi cumi

Tempat lain di Surabaya yang mulai “hidup” menjelang tengah malam adalah Nasi Cumi di sebelah Pasar Atum. Bila melihat gerobagnya datang, para langganan langsung memosisikan diri antre untuk mendapat makanan. Lauknya sangat beragam, tetapi hampir semuanya tidak melewatkan cumi kecil yang digoreng kering – signature dish dari warung nocturnal ini.

Ragam sajiannya mengingatkan saya pada nasi jamblang yang populer di Cirebon. Tetapi, jelas pula tampak ciri masakan Madura pada berbagai sajian di Nasi Cumi ini. Seperti dapat diduga, sambalnya pun termasuk kelas berat.

Mungkin karena lokasinya lebih di tengah kota, pelanggan Nasi Cumi Pasar Atum kebanyakan adalah para mahasiswa yang kelaparan di tengah malam setelah belajar bersama. Di sana selalu tampak rombongan mahasiswa dari berbagai lingkungan. Suatu malam, saya pernah mengalami kejadian lucu di sana. Para mahasiswa yang mengenali “Pakde Mak Nyuss” berada di tengah mereka, beramai-ramai ingin foto bersama.

Pertama, kelompok mahasiswa arsitektur bergerombol untuk berfoto bersama. Lalu, dari fakultas kedokteran ambil giliran. Berturut-turut dari berbagai fakultas lain ikut berfoto bersama. Mirip foto wisuda, tetapi dengan busana seadanya. Kebanyakan mahasiswi dengan celana pendek dan kaus oblong – bahkan ada yang sudah memakai piyama. Itu adalah photo session yang paling tertib, sekaligus paling seru, yang pernah saya alami. Hmm, banyak yang cantik-cantik juga, lho?

C’Mar

Beberapa warung nocturnal yang menjadi populer akhirnya tidak mampu memertahankan jam operasional yang terlampau larut. Warung C’Mar (Ceu Mar) di Cikapundung, Bandung, misalnya, mengalami perubahan jam operasi terus-menerus by popular demand (karena tuntutan pelanggannya). Menurut “hikayat”-nya, Ceu Mar pertama kali melayani para pengasong surat kabar yang mengambil dagangan di pagi buta dari sebuah agen surat kabar di Cikapundung.

Tetapi, legitnya masakan Ceu Mar akhirnya tidak hanya dikenal para pengasong surat kabar. Akibatnya, Ceu Mar tidak lagi buka dagangan pada pukul tiga pagi, tetapi terpaksa mulai jualan pukul satu dinihari. Keadaan ini tidak berlangsung lama, karena Ceu Mar dipaksa lagi oleh pelanggannya untuk buka mulai tengah malam.

Para mahasiswa yang menjadi pelanggan setia pun memasang papan nama funky, C’Mar – bukan lagi Ceu Mar. Kemudian, untuk beberapa lama C’Mar buka mulai pukul sembilan. Sekarang, pukul tujuh malam pun kita sudah dapat menikmati sajian C’Mar yang raos pisan, serta keramahtamahan Ceu Mar yang legendaris.

Gudeg

Di Solo, gudeg ceker Bu Kasno di Margoyudan yang keukeuh hanya buka mulai pukul setengah dua dinihari, pun kini mengubah jam operasinya. Tetapi, ini karena Bu Kasno sudah sejak setahun lebih membuka “cabang” di Galabo (Gladak Langen Bogan) di dekat alun-alun yang buka mulai pukul enam senja. Warung “pusat”-nya di Margoyudan tetap hanya mulai jualan tepat pukul setengah dua dinihari.

Di Yogya ada satu tempat makan yang dikenal dengan nama “Gudeg Pawon”, di sebuah gang kecil dekat Jalan Kusumanegara, Yogya. Padahal, warung ini tidak punya papan nama yang menyebut nama apa pun. Sebaliknya, ada dua papan besar bertulisan: “Hati-hati Motor Anda Digondol Maling”. Papan itu rupanya untuk mengumumkan rawannya keamanan di daerah itu. Akibatnya, tidak sedikit orang menyebut warung ini sebagai “Gudeg Gondol Maling”.

Warung ini baru buka setengah jam menjelang tengah malam. Bila pembelinya ramai, dalam dua jam semua dagangannya sudah habis. Sebetulnya, kualitas gudeg dan lauk di “Gudeg Pawon” ini tidak memenuhi syarat istimewa. Satu-satunya pembeda dari gudeg yogya lainnya adalah bahwa gudeg ini tidak manis, melainkan gurih dan sedikit asin. Selebihnya cuma “beti” – beda tipis – dibanding gudeg lainnya. Jadi, mengapa pelanggan tetap mau berangkat malam-malam dan mengambil risiko motornya digondol maling “hanya” untuk mencicipi gudeg ini?

Kelebihan “Gudeg Pawon” sebetulnya hanya gimmicky. Gudeg dan lauk-pauknya disediakan di dapur (dalam bahasa Jawa pawon). Pembeli masuk ke dapur dan memesan menu yang diingini. Dua orang sibuk melayani pembeli di dapur itu. Setelah mendapat piring makanannya, pelanggan membawanya untuk disantap di luar.

Tetapi, banyak pula pelanggan yang tetap ngendon di dapur menyantap makanan mereka. Soalnya, di dapur aromanya lebih menggoda. Aroma nasi panas yang mengepul dan aroma berbagai lauk-pauk di dapur itu memang merupakan pengalaman makan yang khas.

Ayo, para “kalong”, tunjukkan warung nocturnal favorit-mu!(Bondan Winarno)

December 12, 2009 Posted by | Food | Leave a comment

Waghasi cemilan manis dari jepang

Dari sekian banyak tipe makanan Jepang, mungkin kita lebih mengenal makanan seperti sushi dan sashimi daripada bentuk makanan lain. Dari sekian jenis makanan Jepang, dikenal nama Wagashi yang adalah cemilan khas Jepang. Walaupun sekedar cemilan, ternyata Wagashi tidak bisa dipandang sebagai makanan biasa. Menurut tradisi Jepang, Wagashi tradisional harus mampu memanjakan lima macam indra manusia.

Bayangkan bahwa Wagashi harus mampu memanjakan mata, lidah, hidung, dan bahkan telinga serta indra sentuhan manusia. Ada berbagai pertimbangan yang dibutuhkan dalam memanjakan kelima indra ini sekaligus. Wagashi harus mampu tampil menarik, harus mampu menghadirkan semua rasa bahan baku yang dibutuhkan dalam membuat makanan ini. Selain itu, tekstur Wagashi harus mampu memanjakan mulut penikmatnya. Bahkan bau yang dihadirkan oleh Wagashi diwajibkan dapat mengelus lembut pada saat disajikan, tanpa menutup wangi minuman teman sajian Wagashi. Mungkin yang paling unik adalah kemampuan Wagashi untuk memanjakan telinga penikmatnya! Caranya? ternyata nama Wagashi harus dibuat sedemikian rupa sehingga terdengar indah di telinga.

Beberapa nama wagashi bahkan didesain untuk menyesuaikan dengan musim Wagashi tersebut dihidangkan.

Lalu seperti apa Wagashi itu? Sebelum beranjak ke topik tersebut, mari kita pelajari sejenak kapan Wagashi mulai dikenal di Jepang. Wagashi ternyata mulai bermunculan di Jepang karena pengaruh kuat dari teknik pengolahan makanan dari China dan Portugis dan Spanyol. Bentuk-bentuk wagashi pertama

sederhana sekali dan sangat terasa pengaruh teknik persiapan makanan dari China. Bentuk-bentuk awal Wagashi seperti Manju yang berupa berbagai cemilan dari tepung beras dengan beberapa macam isi sangatlah sederhana. Setelah masuknya pengaruh Eropa pada sekitar abad 14 ke Jepang, mulai bermunculan berbagai bentuk unik dan menarik dari wagashi

Seiring dengan Jepang yang menjadi semakin terbuka, berbagai bahan makanan baru mulai diperkenalkan sebagai bahan pembuat Wagashi. Bahan yang pada awalnya hanya berupa berbagai macam tepung dan kacang-kacangan serta berbagai macam daun untuk memberikan wangi khusus kepada Wagahshi, mulai mendapat tambahan berupa Kanten, sejenis Jelly yang dibuat dari rumput laut, dan Wasambonto, sejenis gula yang sangat halus mulai ditambahkan, sehingga menambahkan berbagai bentuk dan rasa unik kepada Wagashi dari Jepang ini.

Di pasaran modern sekarang, berbagai bentuk wagashi dikenal dengan berbagai macam variasi, sampai terkadang sangat susah mengelompokkan macam-macam Wagashi karena banyaknya variasi yang memberikan keunikan kepada masing-masing jenis Wagashi. Tapi setidaknya, dikenal ada lima macam bentuk dasar

Wagashi, antara lain adalah:

Namagashi

Namagashi (c) shop.gnavi.co.jp

Namagashi ini selalu dibuat segar dan tema yang diambil sangat bergantung kepada musim yang ada. Biasanya Namagashi dibentuk sesuai dengan apa yang menjadi tema paling menarik pada saat musim tertentu di Jepang. Misalnya di musim semi, Namagashi akan dibuat menyerupai kuncup bunga yang mulai merekah, pada musim panas Wagashi akan mengambil bentuk seperti embun yang meluncur di dedaunan. Di musim gugur, namagashi akan didominasi warna merona dedaunan yang jatuh ke tanah, sedangkan pada musim dingin, Namagashi akan menampilkan indahnya bunga plum yang merona di antara nuansa putih salju. Bahkan nama-nama masing-masing bentuk Namagashi akan memberikan nuansa puisi kepada mereka yang mendengarnya.

Yokan

Yokan (c) geocities.jp

Yokan merupakan sejenis Jelly yang dibuat menggunakan Kanten, pasta kacang Adzuki yang disebut An atau Anko dan gula. Masa keemasan Yokan berada di zaman Edo (mulai abad 17 sampai pertengahan abad 19), karena gula yang mulai mudah ditemukan di masa tersebut. Yokan sangat terkenal sebagai makanan untuk hadiah dan dapat dalam waktu yang cukup lama. Yokan ini dapat ditemukan dengan ribuan variasi, dari sekedar “batu bata” dengan warna dan bau yang luar biasa memikat, sampai dengan bentuk seperti kolam ikan lengkap dengan ‘seekor’ ikan koi sedang berenang di dalamnya. Tingkat kesulitan pembuatan Yokan ini sangat menantang, apalagi dengan berbagai variasi menarik tadi.

Monaka

Monaka (c) seriouseats.com

Berbagai jenis Monaka juga dapat ditemui dengan mudah, dan salah satunya mungkin kita kenal sebagai Taiyaki atau kue dengan bentuk ikan dengan isi Anko. Rasa manis dari Anko yang dipadu dengan gurih adonan Taiyaki ini membuatnya menjadi salah satu makanan paling digemari. Pada dasarnya Monaka memiliki berbagai variasi bentuk, tapi tidak dalam rasa. Karena intinya, Monaka adalah dia buah kue tipis yang ditangkupkan menjadi satu dengan isi Anko tadi.

Manju

Manju (c) wagashipix.com

Namanya memang terdengar seperti nama India, tapi Manju yang satu ini merupakan semacam kue dari tepung yang dibentuk seperti bakpau, dan seperti biasa, diisi dengan Anko. Seperti Wagashi lain, Manju memiliki berbagai bentuk unik dan menarik serta lucu. Mulai dari bentuk seperti kelinci sampai dengan bentuk yang polos seperti bakpau yang mengundang kita untuk membenamkan gigi ke tubuh Manju ini.

Higashi

Higashi (c) flickr.com

Kue kering yang satu ini unik, tidak dibuat dengan mematangkan adonan dalam oven atau pemanggang, tapi hanya dipadatkan dalam cetakan, begitu saja! Bahan pembuat Higashi ini tidak bisa sembarangan, hanya tepung ketan paling halus, Wasambonto, gula kualitas terbaik, serta sedikit kanji yang dicampur dalam bentuk kering, dan kemudian dibentuk dengan cetakan.

Dari sedemikian banyak bentuk yang ada, tampaknya belum ada yang merambah hati para penduduk Indonesia, kenapa tidak Anda yang memulainya?

December 10, 2009 Posted by | Food | Leave a comment

Hamburger paling mahal di dunia

Hamburger.. makanan yang murah meriah di negara Paman Sam ini ternyata memang tidak bisa diremehkan sama sekali, makanan yang bisa ditemui di mana-mana dengan harga yang relatif murah di negara ini, ternyata bisa memiliki harga yang bisa bikin kantong bolong. Bayangkan, harga termurah untuk hamburger unik ini bisa mencapai 200 Ribu Rupiah seporsi lho! Kenapa bisa semahal itu? Kita intip yuk!!

10. Cheese Burger Sapi Kobe dengan Jamur dan Bacon

Kobe Beef Burger (c) blog.ratestogo.com

Beberapa restoran di Amerika dengan berani membuat berbagai inovasi unik, dengan berani membuat makanan murah ini menjadi makanan yang luar biasa dengan menggunakan daging sapi khusus. Daging sapi Kobe memang terkenal sangat mahal dan lembut, apalagi dengan tambahan keju Gorgonzola, ditambah jamur tumis, bacon dan selai bawang. Harganya? $21.75 sekitar 220 Ribu Rupiah! Mau coba?
9. Hamburger Spago

Spago Burger (c) forbestraveler.com

Di Spago, restoran di Beverly Hills, anda akan bertemu dengan menu Hamburger dengan harga fantastis: 250.000 Rupiah! Kenapa bisa semahal itu? Ternyata karena restoran ini dikelola oleh seorang Chef bernama Wolfgang Puck, dan Wolfgang adalah pecinta burger. Jadi jangan takut, burger yang dia sajikan tentunya adalah burger terbaik bayangkan aja, burger dengan keju cheddar, bawang merah panggang plus aioli bawang putih.. pasti seru!!
8. Kobe Sliders

Kobe Sliders (c) forbestraveler.com

Menu yang satu ini emang unik, Slider ini adalah menu favorit yang terdiri dari enam potong burger kecil kecil. Masing-masing mendapat ‘bantuan’ berupa Russian Dressing, bawang, plus Keju Swiss. Yang menarik adalah masing-masing burger dibuat dari daging sapi Kobe, dengan harga: 300 Ribu-an per porsi.. dengan kata lain 1 burger harganya 50 Ribu Rupiah!!!
7. 21 Burger

21 Burger (c) forbestraveler.com

Restoran yang dikenal dengan nama 21 di New York ini memiliki salah satu sajian khas yang disebut 21 Burger. Harganya lumayan, 325 Ribu Rupiah per porsi. Kenapa mahal? Burger ini dibuat dengan tambahan lemak dari bebek, marjoram dan thyme, bahan khas yang membuat menu ini berbeda dari berbagai burger lain. Selain itu, makanan ini disajikan dengan tomat panggang, bawang dan kentang panggang juga! Keren kan?
6. Burger Rossini

Rossini Burger (c) blog.ratestogo.com

BUERGER BAR! tempat ini suasananya santai, tapi sekali Anda melihat menu yang ada, baru Anda akan mengerti bedanya. Rossini Burger, kreasi dari Hubert Keller, pemilik Burger Bar ini dibuat dari daging sapi Kobe dengan saus truffle (sejenis jamur) dan foie gras (hati angsa khas Perancis) yang diapit sepasang roti bawang yang luar biasa nikmat! Harganya? 600 Ribu Rupiah!
5. Grand Burger

Grand Burger (c) forbestraveler.com

Menu yang disajikan di McGuire’s Irish Pub di Pensacola, Florida ini memang agak berbeda. Dibuat dari daging filet mignon segar, tapi bukan hanya ini yang membuatnya istimewa, selain daging, burger ini juga diisi selada, tomat dan bawang, tapi, ada tambahan lain! Kaviar! Selain itu, jika Anda memesan makanan ini, Grand Burger akan disajikan dengan Sampanye khusus: Moet & Chandon White Star Champagne. Harganya? 1 Juta Rupiah!
4. Burger Double Truffle

Double Truffle (c) perezhilton.com

Daniel Bouolud, pemilik DB Bistro Moderne di New York ini memiliki ide menarik untuk burger buatannya. Buatan pertamanya adalah burger yang diisi dengan foie gras (hati angsa khas Perancis), ditambah dengan iga bakar dan truffle (sejenis jamur). Sedangkan menu termahal yang ada di bistro miliknya, dengan bandrol 1,5 Juta Rupiah, adalah Burger Double Truffle, mengapa mahal? Truffle yang digunakan untuk burger ini sampai 2 ons!
3. Burger Richard Nouveau

Richard Nouveau (c) gothamist.com

Wall Street Burger Shoppe, yang didirikan, tentu saja di Wall Street, New York menyajukan burger dengan harga fantastis: 1,75 Juta Rupiah! Burger ini dibuat dari daging pilihan dari sapi Kobe, dan dilumuri dengan foie gras, truffle dan daun emas! Bahkan saus mayones yang dibuat khusus untuk Burger ini juga diberi tambahan truffle dan daun emas! Wajar kan jika harganya selangit?
2. Absolutely Ridiculous Burger

Absolutely Ridiculous Burger (c) blog.ratestogo.com

Harganya: 5 Juta Rupiah! Sampai sekarang bahkan tidak jelas kenapa para pengunjung Mallie’s Sports Bar di Southgate, Michigan beranggapan bahwa burger ini masih sehat. Bayangkan saja, burger ini dibuat dari sekitar 75 kg lebih daging sapi. Jika Anda ingin mencobanya, setidaknya 72 jam sebelum Anda datang, Anda sudah harus memesan makanan ini. Anda boleh membawa maksimal 30 orang untuk menghabiskan burger ajaib ini beramai-ramai! 30 orang? dengan kata lain, satu orang harus menghabiskan 2,5 kg daging! Pantas orang Amerika pada gemuk ya?
1. Burger Daging Sapi Kobe dan Lobster Maine

Kobe dan Lobster Maine (c) anidori.com

Burger yang bisa ditemui di Le Burger Brasserie di Las Vegas, Nevada, ini, dibuat dari daging sapi kobe giling ukuran besar ditambah potongan lobster besar-besar juga. Setelah matang, burger tadi diberi saus yang dibuat dari Keju Brie, prosctiutto (ham khas Italia), bawang karamel dan saus balsamic (yang dibuat dari cuka anggur). Harganya? 7,8 Juta Rupiah! Mahal? Memang, tapi jangan kuatir, karena begitu Anda memesan burger ini, Anda akan mendapat 1 botol Dom Perignon Rose untuk menemani makanan ini.

Ingin menambahkan kreasi Anda sendiri dengan membuat burger termahal ala Anda? kenapa tidak! (blog.ratestogo.com/ari)

December 10, 2009 Posted by | Food | Leave a comment

Aneka Jamur

JAMUR dengan rasa cenderung tawar cocok dijadikan aneka masakan. Mulai tumisan, sup, piza hingga keripik bahkan sate jamur. Selain “si mahal” truffle, apa saja jenis jamur yang lezat dijadikan masakan?

Jamur kancing (champignon)

Di pasar atau supermarket jamur kancing dapat dibeli dalam kondisi segar, biasanya dikemas dalam kaleng atau gelas plastik. Selain dimasak, jamur bundar ini dikeringkan untuk tepung jamur atau keripik jamur.

Jamur payung

Dalam bahasa Jepang disebut shiitake, sedangkan orang China menamai hioko. Adapun orang Indonesia menyebutnya jamur jengkol karena bentuk dan aromanya seperti jengkol. Jamur asal Asia Timur ini lazim ditemui dalam masakan Jepang.

Jamur merang

Warna tudungnya ada beberapa macam, antara lain putih bersih, abu-abu, dan hitam bergantung pada bibit serta cara budi dayanya. Paling enak jamur ini dimasak ketika tudungnya belum mekar.

Jamur morel

Jamur yang banyak ditemukan di Eropa saat musim semi dan awal musim gugur ini rasanya sangat enak. Biasanya dijual dalam bentuk kering atau kalengan.

Jamur ling zhi

Jamur jenis ini paling pas dijadikan sup. Kehangatan semangkuk jamur ling zhi membantu mencegah dan mengobati penyakit influenza.

Jamur kuping

Ciri khasnya adalah teksturnya yang kenyal (tapi tidak lembek) dan bentuknya yang mirip daun telinga dan kenyal. Warna dan ukurannya bervariasi, bergantung jenisnya.

Jamur tiram

Jamur dengan kandungan air tinggi ini dikenal juga dengan sebutan oyster mushroom. Warnanya beragam mulai putih, abu-abu, cokelat, hingga pink

December 7, 2009 Posted by | Food | Leave a comment